PERTEMUAN 3
BUNDA MARIA MURAH MELAYANI
PEMBUKAAN
Lagu Pembuka
(jika diperlukan, dapat dipilih sendiri)
Tanda Salib dan Salam
Pengantar
Saudara-saudari terkasih,
Dalam pertemuan kedua kita belajar dari kesetiaan Bunda Maria dalam
beribadat sebagai penghayatan ketaatannya pada perintah Allah. Kita
diingatkan bahwa peribadatan bukanlah sebatas doa pribadi tetapi cara
menghayati iman yang tersusun rapi dengan
waktu-waktu tertentu. Pada pertemuan ketiga ini, kita belajar dari Bunda
Maria dalam perkawinan di Kana. Kehadiran Bunda Maria dalam perkawinan
itu membuahkan sukacita bagi semua orang.
Peristiwa di Kana bukan sekadar cerita tentang mukjijzat air yang
berubah menjadi anggur tetapi kita melihat bagaimana Bunda maria sungguh
melayani dengan Murah Hati. Bunda Maria adalah orang pertama yang
menyadari bahwa tuan rumah sedang dalam kesulitan karena kehabisan
anggur. Ia tidak tinggal diam, melainkan
membawa persoalan itu kepada Yesus. Ia tidak memaksa, namun percaya
sepenuhnya dengan berpesan kepada para pelayan, "Apa yang dikatakan-Nya
kepadamu, buatlah itu!"
Doa Pembuka.
Allah Bapa sumber belaskasih, kami umat lingkungan dan stasi bersyukur
atas kemurahan-Mu dan keteladanan Bunda Maria dalam mewujudkan iman di
tengah masyarakat. Hari ini kami berkumpul untuk belajar bersama dalam
mendewasakan iman kami. Kami
mohon rahmat-Mu agar dapat meneladani Bunda Maria yang murah hati dalam
melayani Masyarakat. Bunda Maria, ajarilah kami untuk menghidupi tugas
pelayanan di tengah masyarakat dalam hidup kami sehari-hari. Demi Kristus,
Tuhan dan Pengantara kami sepanjang segala masa. Amin.
Bacaan Kitab Suci.
Injil Yohanes 2:1-11.
Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus
ada di situ; Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu.
Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: "Mereka
kehabisan anggur." Kata Yesus kepadanya: "Mau apakah engkau dari pada-Ku,
ibu? Saat-Ku belum tiba." Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan:
"Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!" Di situ ada enam tempayan yang
disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya
dua tiga buyung. Yesus berkata kepada pelayan pelayan itu: "Isilah
tempayan-tempayan itu penuh dengan air." Dan mereka pun mengisinya sampai
penuh. Lalu kata Yesus kepada mereka: "Sekarang cedoklah dan bawalah kepada
pemimpin pesta."
Lalu mereka pun membawanya. Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang
telah menjadi anggur itu -- dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi
pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya -- ia memanggil
mempelai laki-laki, dan berkata kepadanya: "Setiap orang menghidangkan
anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang
baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang." Hal
itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari
tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan
murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.
Pendalaman Teks Kitab Suci.
Saling sharing jawaban singkat.
1. Kata atau kalimat mana yang berkesan bagi saudara-saudari? Mengapa?
2. Menurut saudara-saudari, mengapa Bunda Maria menyampaikan persoalan
kehabisan anggur kepada Tuhan Yesus?
3. Menurut saudara-saudari, mengapa Bunda Maria meminta para pelayan: apa
yang dikatakan kepadamu, buatlah itu?
Penegasan
Saudara-saudari,
Pada pertemuan kedua, kita belajar kesetiaan Bunda Maria dalam
beribadat. Dari Bunda Maria kita belajar bahwa beribadat bukan sebatas
melaksanakan hukum atau kewajiban agama, tetapi lebih dari itu, yaitu
perjuangan iman menguduskan hidup. Pengudusan hidup berpuncak dan berpusat
dalam Ekaristi Suci yang dirayakan setiap Minggu, bahkan setiap hari. Di
samping Ekaristi, ibadat sakramen lainnya juga tersedia untuk menguduskan
hidup kita. Selain itu, kita juga dapat beribadat secara pribadi dan dalam
keluarga serta lingkungan dengan berbagai intensi. Tersedia juga ibadat
devosional: rosario, jalan salib, malaikat Tuhan, dll. Semua itu menguduskan
hidup kita.
Pada pertemuan ketiga ini, kita belajar dari Bunda Maria dalam perkawinan di
Kana. Kehadiran Bunda Maria dalam perkawinan itu membuahkan sukacita bagi
semua orang. Hal ini bermula dari situasi kekurangan anggur dalam pesta
pekawinan itu. Padahal dalam budaya orang Yahudi, anggur bukanlah sebatas
suguhan, tetapi mengungkapkan keramahtamahan dan sukacita. Oleh karena itu,
kekurangan anggur pasti akan membuat penyelenggara pesta sangat bingung.
Bunda Maria mengetahui bahwa mereka kekurangan anggur. Nampaknya, anggur
yang disediakan tidak cukup untuk dihidangkan pada tamu yang hadir. Pasti
nanti akan kehabisan anggur. Jelas ini merupakan masalah besar bagi tuan
rumah. Bunda Maria sangat cemas akan masalah yang dihadapi tuan rumah. Oleh
karena itu, Bunda Maria menyampaikan kepada Tuhan Yesus: mereka kehabisan
anggur. Kecemasan yang diungkapkan Bunda Maria ini menunjukkan dengan jelas
keterlibatan Bunda Maria dalam pesta perkawinan itu. Bunda Maria tidak
datang sebagai tamu, tetapi lebih dari itu, sebagai bagian dari tuan rumah
yang sedang menghadapi masalah besar. Oleh karena itulah Bunda Maria
mengkomunikasikan masalah yang diketahuinya kepada Tuhan Yesus.
Atas pemberitahuan Bunda Maria, Tuhan Yesus menjawab: Mau apakah engkau dari
padaKu, ibu? Saat-Ku belum tiba. Secara sederhana jawaban Tuhan Yesus itu
dapat dikatakan: apa urusan-Ku dengan apa yang engkau sampaikan itu. Itu
belum waktunya. Seolaholah Tuhan Yesus tidak mau tahu akan apa yang
disampaikan Bunda Maria. Meski demikian Bunda Maria mengatakan kepada para
pelayan: Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu. Kata-kata Bunda Maria ini
mengungkapkan kepercayaan Bunda Maria bahwa tidak mungkin Tuhan Yesus diam
saja terhadap masalah yang sangat mencemaskan ibuNya.
Saudara-saudari,
Selanjutnya Tuhan Yesus berkata kepada pelayan pelayan itu: Isilah
tempaya-tempayan itu penuh dengan air. Segera pelayan-pelayan mengisi 6
tempayan itu penuh dengan air. Setelah penuh, Tuhan Yesus berkata kepada
pelayan-pelayan itu: "Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta."
Mereka pun membawanya kepada pemimpin pesta. Ternyata air di dalam
tempayan-tempayan itu sudah berubah menjadi anggur. Pemimpin pestalah yang
menyatakan kepada mempelai laki-laki: "Setiap orang menghidangkan anggur
yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik;
akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang." Semua tamu
yang hadir mengalami sukacita. Namun mereka semua tidak mengetahui bahwa
sukacita itu berawal dari Bunda Maria yang kemudian diteruskan kepada Tuhan
Yesus.
Beberapa hal yang dapat kita tangkap dari pelayanan yang murah hati dari
Bunda Maria.
1. Pelayanan ini menunjuk pada peristiwa kemasyarakatan, yaitu perkawinan.
Maka kekhasan pelayanan ini adalah untuk warga masyarakat, bukan untuk
keluarga atau kelompok sendiri.
2. Pelayanan yang murah hati ini berawal dari kesediaan untuk terlibat.
Bunda Maria hadir dalam pesta perkawinan itu bukan sebagai tamu, sebagai
orang luar, tetapi masuk di dalam kesibukan dan kerepotan pesta itu. Tidak
mungkin Bunda Maria mengetahui anggurnya habis, jika Bunda Maria tidak ikut
repot dan sibuk dalam peristiwa itu.
3. Keterlibatan Bunda Maria itu melahirkan rasa menjadi bagian dari
peristiwa itu. Bahwa tuan rumah menghadapi masalah besar, yaitu kehabisan
anggur. Karena Bunda Maria menjadi bagian dari peristiwa itu, maka masalah
yang dihadapi tuan rumah menjadi masalah Bunda Maria pula. Karena itulah
timbul kecemasan dalam diri Bunda Maria. Bisa saja Bunda Maria tidak mau tau
atau pura-pura tidak tahu.
4. Kemurahan hati berbuah tindakan yang konkrit. Kemurahan hati tidak hanya
berhenti pada merasakan masalah yang dialami orang lain, tetapi menggerakkan
untuk melakukan tindakan konkrit. Yaitu mengajak orang lain untuk terlibat.
Bunda Maria mengkomunikasikan kecemasan yang dirasakan kepada Tuhan Yesus,
bahwa anggurnya habis. Bunda Maria juga mengajak pelayan-pelayan itu untuk
terlibat: meminta kepada mereka untuk menuruti apa yang dikatakan Tuhan
Yesus. Tindakan konkrit Bunda Maria ini membuahkan sukacita karena tuan
rumah terhindar dari masalah besar.
5. Kemurahan hati tidak perlu dan tidak butuh diketahui banyak orang. Tuan
rumah dan semua tamu tidak mengetahui sama sekali bahwa masalah besar yang
dihadapi itu teratasi karena Bunda Maria dan Tuhan Yesus.
Saudara-saudari,
Sebagai persekutuan murid-murid Kristus, kita hidup di tengah
masyarakat. Banyak kesempatan yang mengajak kita untuk dengan murah hati
melayani seperti Bunda Maria: keterlibatan kita dalam membantu dan menolong
mereka yang bukan seiman, kesediaan
kita menjadi pelayan masyarakat sebagai RT/RW, kepeduliaan kita terhadap
mereka yang miskin lemah tidak berdaya, menguatkan yang mengalami kesusahan,
kesediaan terlibat dalam peristiwa kemasyarakatan, dll. Kemurahan hati dalam
melayani merupakan
wujud nyata perutusan kita sebagai garam dan terang dunia.
Berkat Allah selalu menyertai kita.
Doa Umat. Doa spontan dengan ujud masing-masing
pribadi.
Doa Rosario. Dipersilakan memilih peristiwa Rosario sendiri.
Doa
Arah Dasar Keuskupan Surabaya 2026. Didoakan bersama.
Berkat Penutup.
Marilah kita hening sejenak, mohon berkat Tuhan bagi kita yang hadir di
sini, bagi keluarga-keluarga dan juga bagi umat di lingkungan/stasi kita.
Semoga Tuhan beserta kita.
Semoga kita semua, seluruh anggota keluarga dan saudara kita di
lingkungan/stasi . . . senantiasa dibimbing dan dilindungi oleh berkat Allah
Yang Mahakuasa: Dalam Nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Amin.
Lagu Penutup. Jika diperlukan, dapat dipilih sendiri.