PERTEMUAN 2
BUNDA MARIA SETIA BERIBADAT
PEMBUKAAN
Lagu Pembuka
(jika diperlukan, dapat dipilih sendiri)
Tanda Salib dan Salam
Pengantar
Saudara-saudari terkasih,
Pada pertemuan pertama, kita telah belajar dari Bunda Maria yang
menghayati perannya sebagai pewarta keselamatan Allah. Melalui Kidung
Magnificat yang populer: "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku
bersukacita karena Allah Juruselamatku", Bunda Maria telah mengajarkan
kepada kita untuk berani mewartakan Kabar Gembira melalui tindakan
nyata. Kesanggupan dan kesetiaan Bunda Maria ini sungguh menginspirasi
kita semua untuk ambil bagian dalam karya pewartaan Gereja.
Dalam pertemuan kedua ini kita akan memaknai komitmen "Bunda Maria yang
setia beribadat" sebagai penghayatan ketaatannya pada perintah Allah.
Kita semua diajak untuk setia beribadat dan membuka hati kepada Allah
sehingga kita memiliki sukacita hidup karena merasakan bahwa Allah
menyelamatkan kita. Marilah kita mempersiapkan diri dengan memohon
kehadiran Roh Kudus agar pertemuan ini membuahkan pertumbuhan iman.
Doa Pembuka.
Allah Bapa yang mahakasih, kami bersyukur kepadaMu karena Engkau
berkenan mengumpulkan kami kembali sebagai persekutuan umat lingkungan dan
stasi yang telah Kau kuduskan.
Utuslah Roh Kudus-Mu untuk membimbing kami agar dapat meneladan Bunda Maria
yang taat beribadat sebagai persembahan ketaatannya pada kehendak-Mu. Semoga
seperti Bunda Maria, kami mengalami sukacita iman dalam hidup sehari-hari
sebagai buah ketaatan dalam beribadat. Demi Kristus Tuhan dan Pengantara
kami, kini dan sepanjang masa. Amin.
Bacaan Kitab Suci.
Injil Lukas 2:21-24; 39-40.
Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama
Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.
Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa
Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis
dalam hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi
Allah", dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam
hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung
merpati. Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan,
kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea. Anak
itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah
ada pada-Nya.
Pendalaman Teks Kitab Suci.
Saling sharing jawaban singkat.
1. Kata atau kalimat mana yang berkesan bagi saudara-saudari? Mengapa?
2. Dalam hukum Taurat ditentukan bahwa semua anak laki-laki sulung harus
dikuduskan bagi Allah. Menurut saudara-saudari, apa makna ikuduskannya
seorang anak bagi Allah?
Penegasan
Saudara-saudari,
Pada pertemuan sebelumnya, kita diajak untuk belajar menjadi pewarta
karya keselamatan Allah dari Bunda Maria. Sebagai pewarta karya keselamatan
Allah, Bunda Maria memiliki keterbukaan dan kerendahan hati mendengarkan
kehendak Allah serta memiliki komitmen untuk melaksanakan kehendak Allah:
Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendak-Mu. Keterbukaan
terhadap kehendak Allah berarti kesediaan untuk dipakai oleh Allah dalam
karyaNya. Karena dipakai oleh Allah, maka Bunda Maria menyebut dirinya
berbahagia. Banyak kesempatan, kita juga dipakai oleh Allah untuk karya
pewartaan dalam Gereja. Kesediaan saudara-saudari dalam karya pewartaan
merupakan rahmat dari Allah.
Pada pertemuan kedua ini, kita diajak untuk belajar mengenai kesetiaan beribadat dari Bunda Maria. Dalam tradisi keagamaan orang Yahudi, peribadatan bukanlah sebatas doa pribadi tetapi cara menghayati iman yang tersusun rapi dengan waktu-waktu tertentu. Orang Yahudi beribadat sebagai penghayatan ketaatan pada perintah Allah. Ketaatan pada perintah Allah itu juga diwujudkan dalam persembahan kurban. Karena taat pada perintah Allah, maka ketika genap berusia delapan hari, bayi yang dilahirkan Bunda Maria disunatkan. Tidak disebutkan dengan jelas dimana bayi itu disunatkan. Waktu disunatkan itulah, bayi itu diberi nama Yesus, nama yang diberikan malaikat kepada Bunda Maria. Upacara ibadat sunat merupakan ungkapan iman bahwa Allah menguduskan untuk disatukan dalam umatNya.
Selanjutnya diwartakan bahwa ketika genap waktu pentahiran, mereka membawa bayi Yesus ke Yerusalem untuk menyerahkanNya kepada Tuhan seperti ada tertulis dalam kitab Taurat. Tahir artinya bersih. Maka pentahiran berarti pembersihan. Seorang perempuan yang melahirkan, dipandang kotor karena darah yang keluar waktu melahirkan. Maka ditahirkan, dia dibersihkan harus dari kekotoran akibat melahirkan. Waktu pentahiran adalah 40 hari. Setelah 40 hari melahirkan, seorang perempuan dipandang sudah suci kembali dan diperbolehkan datang ke Bait Allah untuk melakukan upacara pentahiran. Bersamaan dengan upacara pentahiran, Bunda Maria dan Bapa Yusuf juga melaksanakan upacara pengudusan Tuhan Yesus sebagai anak laki-laki sulung. Ibadat persembahan bagi anak laki-laki sulung ini diperintahkan dalam Taurat: Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah dan untuk mempersembahkan kurban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati. Persembahan kurban ini mengungkapkan syukur kepada Allah atas rahmat anak sulung laki-laki.
Saudara-saudari,
Dalam kehidupan umat Israel, anak sulung menempati posisi yang istimewa
dalam keluarga, yaitu sebagai penerus kepala keluarga dan penjaga
kelangsungan garis keturunan keluarga. Lebih dari itu, Allah sendiri
menyatakan bahwa anak sulung adalah milik Allah: Kuduskanlah bagiKu semua
anak sulung, semua yang lahir terdahulu dari kandungan pada orang Israel,
baik pada manusia maupun pada hewan; Akulah yang empunya mereka (Keluaran
13:2). Dinyatakan pula dalam Keluaran 4:22 bahwa bangsa Israel adalah anak
sulung Allah. Artinya, bangsa Israel adalah bangsa pilihan Allah dan
memiliki keistimewaan di hadapan Allah.
Dengan demikian mempersembahkan anak sulung berarti mengembalikan milik
Allah dan menyerahkan seluruh masa depan kehidupan kepada Allah Sang
Pencipta dan Penyelamat.
Ibadat persembahan anak laki-laki sulung yang dijalani oleh Bunda Maria
merupakan pengakuan iman bahwa Tuhan Yesus adalah milik Allah dan seluruh
masa depan keluarga dipersembahkan kepada
Allah. Apa yang dirayakan dalam ibadat, diwujudkan dalam perjuangan hidup
sehari-hari. Maka, setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum
Tuhan, kembalilah mereka ke kota
kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan
menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.
Saudara-saudari,
Dari teks Kitab Suci yang singkat itu jelas diwartakan bahwa Bunda Maria
adalah sosok orang beriman yang setia melakukan peribadatan yang
diperintahkan oleh Allah. Bunda Maria tidak sebatas melakukan kewajiban
agama, tetapi menghayati iman dalam beribadat. Tiga peribadatan yang
dirayakan Bunda Maria dengan setia: (1) penyunatan Tuhan Yesus; (2)
pentahiran dirinya; (3) persembahan Tuhan Yesus sebagai anak laki-laki
sulung. Ada teks lain yang juga mewartakan kesetiaan Bunda Maria beribadat,
Lukas 2:41, yaitu bahwa tiap-tiap tahun Bunda Maria pergi ke Yerusalem
bersama Bapa Yusuf dan Tuhan Yesus untuk merayakan Paskah.
Paskah ini merupakan perayaan iman akan pembebasan bangsa Israel dari
perbudakan Mesir.
Dari Bunda Maria kita belajar bahwa beribadat bukanlah sebatas melakukan
kewajiban hukum agama dan memohon atau meminta kepada Allah, tetapi lebih
dari itu, yaitu menjalin kedekatan relasi dengan Allah. Bahwa dalam ibadat,
Allah menguduskan, membersihkan kita dari dosa dan menyatukan DiriNya dengan
kita.
Dalam ibadat, kita juga mempersembahkan syukur atas segala rahmat yang telah
dilimpahkan kepada kita serta mempersembahkan seluruh masa depan kepada
Allah. Perayaan ibadat terluhur bagi kita sebagai warga Gereja Katolik
adalah Ekaristi Suci. Dalam Ekaristi, sebagai Gereja kita merayakan
penebusan kita dari dosa karena sengsara, wafat dan kebangkitan Tuhan Yesus.
Maka ibadat, terutama perayaan Ekaristi merupakan puncak dan sumber hidup
kita sebagai murid-murid Kristus.
Saudara-saudari,
Beribadat bukan sebatas melaksanakan hukum atau kewajiban agama, tetapi
lebih dari itu, yaitu perjuangan iman menguduskan hidup. Dalam kehidupan
paroki, tersedia berbagai bentuk ibadat. Tersedia setiap Minggu, bahkan
setiap hari untuk merayakan
Ekaristi Suci. Selain itu, juga ibadat sakramen lainnya. Ibadat juga dapat
kita lakukan secara pribadi dan dalam keluarga. Demikian juga di lingkungan
diselenggarakan aneka bentuk ibadat, mulai ibadat untuk orang meninggal,
sampai dengan ibadat syukur dengan
intensi tertentu. Ibadat devosional juga tersedia: rosario, jalan salib,
adorasi, malaikat Tuhan, dan yang lainnya. Kesetiaan kita dalam beribadat
akan menguduskan hidup kita. Berkat Allah selalu menyertai kita.
Doa Umat. Doa spontan dengan ujud masing-masing
pribadi.
Doa Rosario. Dipersilakan memilih peristiwa Rosario sendiri.
Doa
Arah Dasar Keuskupan Surabaya 2026. Didoakan bersama.
Berkat Penutup.
Marilah kita hening sejenak, mohon berkat Tuhan bagi kita yang hadir di
sini, bagi keluarga-keluarga dan juga bagi umat di lingkungan/stasi kita.
Semoga Tuhan beserta kita.
Semoga kita semua, seluruh anggota keluarga dan saudara kita di
lingkungan/stasi . . . senantiasa dibimbing dan dilindungi oleh berkat Allah
Yang Mahakuasa: Dalam Nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Amin.
Lagu Penutup. Jika diperlukan, dapat dipilih sendiri.