BKSN 2026

PENDALAMAN IMAN BKSN
TAHUN 2026

Logo

LATAR BELAKANG
 


 

1. LATAR BELAKANG

Sejak tahun 2025 Ardas Keuskupan Surabaya melaksanakan program penguatan hidup
berparoki. Kita mengawalinya dengan mewujudkan Tritugas Kristus. Sebagai
implementasi dari Tri Tugas Kristus, Ardas 2026 mengembangkan tanggung jawab
berparoki melalui Panca Tugas Gereja: peribadatan (liturgia), mewartakan sukacita Injil
(kerigma), mengembangkan persekutuan (koinonia), pelayanan kasih (diakonia),
memberikan kesaksian hidup (martiria).

Gereja Perdana memberikan inspirasi bagi kita untuk melaksanakan panca tugas Gereja.
Setelah Yesus terangkat ke surga, Gereja melanjutkan didikan Yesus dengan cara hidup
yang khas. Kis. 2:41-47 menceritakannya demikian.

41 Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada
hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. 42 Mereka bertekun dalam
pengajaran rasul-rasul, dalam persekutuan, dalam memecahkan roti dan berdoa.

43 Ketakjuban melanda semua orang, sebab rasul-rasul itu mengadakan banyak
mukjizat dan tanda. 44 Semua orang yang percaya tetap bersatu, dan semua milik
mereka adalah milik bersama, 45 dan selalu ada dari mereka yang menjual harta
miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan
masing-masing. 46 Dengan bertekun dan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari
dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara
bergiliran dan makan bersama-sama dengan gembira dan tulus hati, 47 sambil
memuji Allah dan mereka disukai semua orang. Tiap-tiap hari Tuhan menambah
jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.

Bagaimana kita memahami kisah itu? Praktik seperti berbagi harta milik, doa bersama,
dan pengajaran rasul memang terjadi. Hanya saja Kisah Para Rasul menceritakan dan
menggambarkannya dalam bentuk yang dipadatkan dan diidealkan. Kisah ini bertujuan
untuk menunjukkan buah-buah Roh Kudus dalam Gereja setelah Pentakosta. Untuk
Gereja masa sekarang, tentu tidak disarankan menjual rumah dan membagikannya ke
orang lain. Jemaat masa kini perlu melihat makna di balik kisah itu: semangat berbagi,
hidup rukun bersatu, dan berpusat pada Allah.

Bertolak dari Ardas 2026 Keuskupan Surabaya dan inspirasi Gereja Perdana, BKSN 2026
hendak mendalami teks yang mencerminkan pelaksanaan panca tugas Gereja.
Mengingat tema Panca Tugas Gereja sudah dibahas dalam kegiatan-kegiatan lain, BKSN
akan merenungkan mengapa hal itu penting, bagaimana Gereja Perdana menjalaninya,
apa artinya untuk kita sekarang.

 


 

2. PERTEMUAN

Panca Tugas Gereja memuat lima pilar yang dihayati jemaat dalam kesehariannya. BKSN
2026 merenungkan lima hal itu dalam empat pertemuan. Berkenaan dengan praktik
hidup jemaat awal, tidak ada teks yang secara khusus hanya berbicara tentang liturgi,
atau hidup berjemaat, atau pewartaan, atau pelayanan, atau kesaksian. Sebaliknya, di
dalam hidup berjemaat sekaligus ada liturgi, pewartaan, kesaksian.

Mengingat teks yang berbicara tentang cara hidup jemaat cukup banyak, untuk
pendalaman dipilih beberapa di antaranya. Empat kitab yang berbeda akan dipelajari.
Akan diperlihatkan latar belakang teks, tafsiran, dan bahan renungan. Dengan demikian,
kita bisa menambah wawasan umum tentang situasi jemaat yang ada dalam
masing-masing kitab yang dikutip.

Tema-tema pertemuan pendalaman adalah sebagai berikut:
a. Sehati dalam Doa (Kis. 1:12-14)
b. Berbeda Namun Satu (Ef. 4:1-16)
c. Berpegang pada Ajaran yang Benar (2 Tim. 3:10-17)
d. Menjadi Saksi Kristus (1 Ptr. 3:8-17)

Pertemuan pertama menampilkan kelompok murid yang utuh. Mereka berdoa bersama,
yang kemungkinan di lokasi Perjamuan Terakhir. Mereka mengingat kebersamaan
dengan Yesus. Sehati dalam doa menjadi ciri khas komunitas Kristen awal. Jatidiri Gereja
Perdana dibentuk dalam doa dan kesatuan. Inilah yang kemudian menjadi kunci seluruh
sejarah Gereja hingga sekarang.

Pertemuan kedua melihat bagaimana jemaat harus memperjuangkan kehidupan
bersama yang penuh tantangan. Hampir tidak mungkin mereka bertahan seorang diri.
Iman bertumbuh-kembang dalam komunitas. Memang selalu ada tantangan untuk
hidup bersama dengan orang yang berbeda. Namun, dalam kebersamaanlah iman
semakin dikuatkan. Masing-masing memiliki peran dalam jemaat. Kesatuan
dimungkinkan hanya jika orang menyadari bahwa Kristuslah yang menyatukan mereka.
Tanpa itu, kesatuan jemaat akan rapuh.

Pertemuan ketiga berfokus pada pentingnya berpegang pada ajaran yang benar. Para
murid Yesus hidup di tengah dunia. Mereka ada di tengah angin pengajaran. Hal itu
cukup membingungkan, membuat orang merasa bimbang dan ragu dengan imannya
sendiri. Karenanya, Paulus menasihati Timotius sebagai pemimpin jemaat yang masih
muda, untuk berpegang teguh pada ajaran yang benar. Dia harus berpegang pada Kitab
Suci. Tradisi iman dijaga dan diteruskan. Kitab Suci menjadi penerang jalannya.

Pertemuan keempat menyoroti jemaat sebagai komunitas kecil yang tertekan oleh
masyarakat pagan (kafir). Mereka ditolak, difitnah, disalahpahami, ditekan secara sosial.
Penulis surat Petrus menasihati jemaat untuk hidup benar dalam lingkungan yang
semacam itu. Cara hidup yang baik menjadi bukti dan kesaksian iman mereka. Tidak
semudah dikatakan, tetapi menjadi pelajaran bagi jemaat masa sekarang untuk setia
dan memberi kesaksian melalui cara hidup.

Harapannya, kita tidak hanya berhasil menyelesaikan program BKSN, tetapi juga
memperoleh inspirasi hidup sebagai umat beriman. Tidak hanya menambah wawasan
dan pengetahuan tentang Alkitab, tetapi juga mengubah cara pandang dan hidup
sebagai umat beriman. Seperti dikatakan sebelumnya, bukan informasi yang kita cari,
melainkan transformasi diri.



 



BAHAN PENDALAMAN IMAN BKSN
TAHUN 2026