PERTEMUAN IV
KEHADIRAN GEREJA DI TENGAH MASYARAKAT
PEMBUKAAN
Lagu Pembuka (jika diperlukan, dapat dipilih sendiri)
Tanda Salib dan Salam
Pengantar
Saudara-saudari,
Terimakasih atas kesetiaan mengikuti proses pertobatan di masa prapaskah
ini. Syukur kepada Allah kita telah bertekun sampai pertemuan keempat.
Pertemuan keempat ini tidak dapat dipisahkan dari ketiga pertemuan
sebelumnya. Pertemuan pertama, kita diajak untuk memahami kembali apa itu
paroki. Pertemuan kedua, kita disadarkan bahwa berparoki berarti menggereja
bersama. Kehidupan paroki adalah urusan bersama. Dalam pertemuan ketiga,
kita diajak menyadari bahwa dalam hidupnya, paroki bergantung pada akarnya,
yaitu Lingkungan dan Stasi. Sebagai akar paroki, Lingkungan dan Stasi
menopang kehidupan paroki. Tidak mungkin paroki menjadi kuat jika akarnya
tidak kuat juga.
Saudara-saudari,
Dalam pertemuan keempat ini kita diajak untuk menyadari bahwa Gereja hidup
di tengah masyarakat. Gereja tidak dapat dipisahkan dari masyarakat. Bahkan
oleh Tuhan Yesus, kita sebagai murid-muridNya diutus menjadi terang dan
garam masyarakat. Dan warga masyarakat mengenal Gereja dari warga Lingkungan
yang langsung bercampur dengan warga masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Maka dalam pertemuan keempat ini kita menyadari kembali kehadiran Gereja di
Tengah Masyarakat. Mari kita hening sejenak mempersiapkan diri kita
untuk mengawali pertemuan keempat.
Doa Pembuka
Ya Bapa yang Mahakasih, syukur kami haturkan kepadaMu, karena sebagai
persekutuan umatMu, kami dapat bertekun dalam perjalanan tobat di masa
prapaskah ini. Tiga pertemuan telah kami lewati dengan penuh syukur. Dalam
pertemuan keempat ini kami akan merenungkan kembali kehadiran kami
sebagai Gereja-Mu di tengah masyarakat. Sebagai murid-murid Kristus kami
diutus mewartakan Kasih-Mu di tengah masyarakat. Utuslah Roh Kudus-Mu untuk
menerangi pertemuan kami ini sehingga kami dapat menghasilkan buah
pertobatan yang berguna bagi warga masyarakat di sekitar kami. Demi
kemuliaan Nama-Mu, kini dan sepanjang masa, Amin.
BELAJAR DARI PENGALAMAN
Beberapa pengurus Lingkungan sedang bertemu di rumah Bapak Heri, ketua
Lingkungan. Mereka membicarakan pergantian pengurus Lingkungan. Namun mereka
mengalami kesulitan karena Pak Cipto yang dipilih menjadi ketua Lingkungan,
tidak bersedia. Demikian juga Ibu Endang, yang dipilih menjadi seksi
Liturgi, juga tidak bersedia. Entah kebetulan atau tidak, alasan Pak Cipto
dan Ibu Endang, sama. Yaitu mereka sudah menjadi Ketua RT dan Sekretaris RW.
Mereka berdua tinggal di RT yang berbeda, namun masih dalam satu Lingkungan.
Pak Heri membuka pembicaraan: Siapa ya yang menggantikan Pak Cipto
dan Ibu Endang untuk menjadi Ketua dan Seksi Liturgi? Mereka berdua, rupanya
tidak bersedia karena telah menjadi pengurus RT dan RW. Pak Cipto menjadi
ketua RT I dan Ibu Endang menjadi sekretaris RW III. Padahal sudah lama kita
mengincar Pak Cipto dan Ibu Endang menjadi pengurus Lingkungan.
Ibu Vero menyambung: mestinya yang didahulukan ya Gereja, bukan RT
atau RW. Gereja lebih penting dari RT dan RW. RT dan RW banyak yang mau
menjadi pengurus. Sedangkan di Gereja, orangnya terbatas
Ibu Heni ikut bicara: Ya tidak demikian, Bu. Keduanya penting. Gereja
penting, RT dan RW juga penting. Kita kan hidup di RT dan RW. Kita mencari
yang lain saja. Tentu mereka keberatan jika menjadi pengurus Lingkungan.
Kita harus bagi-bagi tugas: ada yang mengurus Gereja, tetapi ada yang
mengurus masyarakat, RT dan RW.
Ibu Vero menjawab: Mereka lebih diperlukan di Lingkungan
daripada di RT-RW. Bagaimana kita mengurus rumah tangga orang lain
sedangkan rumah tangga sendiri tidak ada yang mengurus. Lagian, apa
faedahnya menjadi pengurus RT-RW, toh kita ya tetap saja warga RT-RW tidak
menghormati kita. Mengadakan Natalan RT-RW saja tidak boleh. Lalu apa
gunanya menjadi pengurus RT-RW?
Pak Hendro menyambung: Tuhan Yesus mengajarkan bahwa kita harus
menjadi garam dan terang dunia. Ini berarti umat Katolik harus mempengaruhi
kehidupan masyarakat di sekitarnya. Salah satu yang dapat dilakukan untuk
mempengaruhi masyarakat adalah menjadi pengurus RT-RW. Justru kita harus
mendukung Pak Cipto dan Ibu Endang yang menjadi pengurus RT-RW.
Ibu Vero lebih bersemangat menjawab: Ya percuma Pak Hendro......
Mereka ikut memajukan RT-RW tetapi tidak terlibat dalam Lingkungan. Waktu
mereka habis untuk mengurusi RT-RW. Apa manfaatnya untuk Gereja?
Ibu Rini menyambung: Ya.....kita ini hidup di tengah masyarakat.
Gereja hadir di tengah masyarakat. Maka Gereja harus peduli dengan
masyarakat. Ibu Endang dan Pak Cipto menghadirkan Gereja di tengah
masyarakat. Mereka menjalankan tugas perutusan di tengah masyarakat.
Sedangkan kita, menjalankan tugas perutusan di dalam Gereja.
Pendalaman Pengalaman
Dari dialog di atas: Saudara-saudari setuju pendapat siapa? Mengapa?
(beri penjelasan singkat saja)
BELAJAR DARI AJARAN GEREJA. Pemandu (atau yang ditugaskan) membacakan
dengan jelas, dan tidak perlu terburu buru. Dapat dibacakan dua kali jika
diperlukan. Peserta diberi waktu hening beberapa saat untuk membaca secara
pribadi dan menemukan kata atau kalimat yang berkesan (menarik).
Saudara-saudari terkasih,
mari kita membaca Buku Seri Mupas 1, butir D.6, halaman 29. Saya akan
membacakan terlebih dahulu, kemudian dipersilakan saudara-saudari membacanya
secara pribadi dan memberi tanda pada kata atau kalimat yang berkesan.
Buku Seri Musyawarah Pastoral 1 (Butir D.6, Hal. 29)
Gereja adalah persekutuan, bukan sekedar paguyuban duniawi. Perbedaan
antara persekutuan dan paguyuban duniawi terletak dalam hal pusat, tujuan
dan cara mewujudkannya. Jemaat perdana, sebagai suatu persekutuan
menempatkan Kristus sebagai pusat hidupnya. Persekutuan dengan Allah adalah
tujuannya. Jemaat ini mengungkapkan diri dalam cara hidup yang khas, yang
biasa kita sebut sebagai pancatugas Gereja: koinonia, liturgia, kerygma,
martyria dan diakonia. Di dalam cara hidup seperti ini, diakonia (pelayanan)
merupakan tindakan kepedulian yang mengalir dari semangat persekutuan yang
hidup dari Ekaristi. Para murid Kristus saling melayani di antara mereka dan
melayani masyarakat untuk ambil bagian dalam karya penyelamatan Kristus bagi
dunia seperti roti yang dipecah dan dibagikan. Ekaristi menjadi unsur
pembeda antara persekutuan murid-murid Kristus dan paguyuban pada umumnya.
Persekutuan menjadi signifikan berkat Ekaristi. Selanjutnya, pelayanan yang
mengalir dari Ekaristi membuat Persekutuan menjadi relevan, menampilkan
wajah konkret Ekaristi dan menjadikan para murid pengabdi masyarakat dan
bangsa. Roh Kasih Kristus tidak tinggal diam tetapi mengalir keluar dan
berbuah dalam aksi kemurahan hati.
Pendalaman Ajaran Gereja
1. Dari ajaran Gereja tersebut, kata atau ungkapan apa yang menarik
bagi saudara- saudari? (baca saja, tidak perlu dijelaskan)
2. Menurut saudara-saudari apa yang membedakan Persekutuan murid-murid
Kristus dengan Paguyuban duniawi?
3. Menurut saudara-saudari, apa artinya para murid Kristus melayani
masyarakat sebagai wujud ambil bagian dalam karya penyelamatan Kristus bagi
dunia seperti roti Ekaristi yang dipecah dan dibagikan? Jelaskan singkat
saja
Penegasan (dibacakan Pemandu dengan pelan dan jelas)
Saudara-saudari,
Pada Musyawarah Pastoral II, tahun 2019 yang lalu telah ditetapkan dua hal
mendasar bagi keuskupan Surabaya. Pertama, melanjutkan Arah Dasar
Keuskupan yang ditetapkan dalam Musyawarah Pastoral I, 2009, yaitu
persekutuan murid-murid Kristus yang semakin dewasa dalam iman, guyub, penuh
pelayanan dan misioner. Kedua, menetapkan pilihan pastoral strategis
2020-2030, yaitu pendewasaan Paroki berakar Lingkungan yang hadir di tengah
masyarakat. Dalam pertemuan keempat ini, kita diajak untuk mendalami makna
Lingkungan sebagai kehadiran Gereja di tengah masyarakat.
Pertama-tama dalam ajaran Gereja yang kita baca tadi dinyatakan bahwa Gereja
adalah persekutuan, bukan sekedar paguyuban duniawi. Perbedaanya antara
persekutuan dan paguyuban duniawi terletak dalam hal pusat, tujuan dan cara
mewujudkannya. Dengan demikian menjadi jelas bahwa persekutuan umat
Lingkungan berbeda dengan paguyuban warga masyarakat lainnya. Perbedaannya
terletak pada pusat, tujuan dan perwujudannya.
Paguyuban masyarakat pusatnya dapat bermacam-macam sesuai kebutuhan dan
kepentingan, misalnya hobi, profesi, satu suku atau daerah, saudara
seketurunan, berasal dari sekolah yang sama, dll. Sedangkan pusat dari
persekutuan umat Lingkungan adalah Tuhan Yesus. Berapapun usianya, apapun
jenis kelaminnya, berasal dari suku manapun, apapun hobinya, keturunan
siapapun, apapun status sosial dan profesinya disatukan oleh pemersatu yang
sama, yaitu Tuhan Yesus. Tuhan Yesus adalah pusat hidup persekutuan umat
Lingkungan. Adapun tujuan persekutuan umat Lingkungan adalah bersekutu
dengan Allah. Bersekutu atau bersatu dengan Allah inilah yang sering kita
sebut iman. Maka apapun yang dilakukan di Lingkungan, sekecil dan
sesederhana apapun merupakan ungkapan atau perwujudan iman.
Saudara-saudari,
Ungkapan atau perwujudan iman ini merupakan cara hidup umat Lingkungan. Cara
hidup yang diwarisi dari Gereja Perdana ini memiliki 5 aspek atau sering
disebut Panca Tugas Gereja. Yaitu: koinonia (persekutuan), liturgia
(peribadatan), kerygma (pewartaan), martyria (kesaksian) dan diakonia
(pelayanan masyarakat). Dalam pertemuan ketiga yang lalu, kita sudah
mendalami 5 aspek cara hidup Gereja ini. Selanjutnya Gereja mengajarkan
bahwa cara hidup seperti itu, mengalirkan tindakan kepedulian persekutuan
yang hidup dari ekaristi. Maka umat yang hidup dari Ekaristi akan
mengalirkan tindakan kepedulian baik ke dalam, yaitu bagi umat Lingkungan;
maupun ke luar, bagi masyarakat sekitar. Tindakan kepedulian ini merupakan
ambil bagian dalam karya keselamatan Kristus bagi dunia, seperti roti yang
dipecah dan dibagikan dalam Ekaristi. Dipecah dan dibagi itu menyakitkan.
Maka roti yang dipecah dan dibagi menyatakan kesediaan tulus berkurban.
Betapa mendalam nilai iman kesediaan warga Lingkungan untuk peduli dan
terlibat dalam kehidupan Lingkungan maupun masyarakat. Sekecil dan
sesederhana apapun keterlibatan tulus umat dalam aneka kegiatan Lingkungan
dan masyarakat adalah seperti Kristus yang hadir dalam Ekaristi, Roti yang
dipecah dan dibagikan.
Oleh karena itu selanjutnya ditegaskan bahwa Ekaristi menjadi unsur pembeda
antara persekutuan murid-murid Kristus dan paguyuban pada umumnya.
Persekutuan menjadi signifikan berkat Ekaristi. Menjadi signifikan berarti
menjadi sungguh bermakna. Tentu saja yang dimaksud dalam hal ini adalah
bermakna iman. Dengan demikian persatuan dengan
Tuhan Yesus dalam Ekaristi sungguh bermakna jika diwujudkan dengan
keterlibatan dalam cara hidup yang nyata di Lingkungan melalui 5 aspeknya.
Saudara-saudari,
Selain menjadi signifikan, Ekaristi juga membuat persekutuan murid Kristus
menjadi relevan jika mengalirkan pelayanan bagi warga masyarakat di sekitar.
Secara sederhana menjadi relevan berarti memiliki arti, berguna, bermanfaat
bagi masyarakat. Gereja didirikan oleh Tuhan Yesus bukan untuk dirinya
sendiri, tetapi untuk dunia, untuk masyarakat. Maka Gereja diutus untuk
menjadi terang dan garam dunia. Hidup dan perutusan Gereja bukanlah untuk
dirinya sendiri, tetapi untuk masyarakat di sekitarnya. Maka jika Gereja
sebagai persekutuan murid Kristus tidak mengambil bagian dalam pengabdian
bagi masyarakat, kehidupan Gereja menjadi tidak relevan. Dengan kata lain,
jika Gereja hanya sibuk dengan kegiatannya sendiri, maka Gereja mengingkari
perutusan yang dipercayakan Tuhan Yesus kepada Gereja.
Melalui persekutuan umat Lingkungan, kehadiran Gereja paling dirasakan
oleh warga masyarakat. Jika umat Lingkungan ramah bagi warga masyarakat,
maka Gereja Katolik akan dikenal sebagai Gereja yang ramah. Jika umat
Lingkungan murah hati dan cepat menolong warga masyarakat yang menderita dan
membutuhkan, maka Gereja Katolik akan dikenal warga masyarakat sebagai
Gereja yang murah hati. Jika umat Lingkungan tulus terlibat dalam
kepengurusan RT/RW, maka Gereja akan dikenal warga masyarakat sebagai Gereja
yang peduli pada masyarakat. Oleh karena itu, melalui umat Lingkungan,
Gereja dipengaruhi oleh kehidupan masyarakat dan sebaliknya, Gereja dapat
mempengaruhi kehidupan masyarakat.
Saudara-saudari,
Kehidupan umat Katolik menjadi signifikan bagi persekutuan di Lingkungan dan
relevan bagi warga masyarakat adalah dua sisi dari satu mata uang. Sebagai
akar paroki, Lingkungan memiliki dua hal penting yang tidak dapat
dipisahkan, yaitu signifikasi ke dalam: menguatkan persekutuan Gereja dengan
5 aspek kehidupannya dan relevansi ke luar: menjadi garam dan terang
masyarakat. Dua hal penting ini bersumber dari Ekaristi. Maka betapa penting
Ekaristi sebagai sumber hidup bagi warga Lingkungan.
Saudara-saudari,
Gereja diutus Tuhan Yesus untuk menjadi garam dan terang bagi masyarakat.
Perutusan ini memperoleh kekuatan ilahi dari Ekaristi. Bagaimana selama ini
peran saudara-saudari dalam kehidupan masyarakat di sekitar? Siapa saja dari
warga Lingkungan dan Stasi yang selama ini bersedia menjadi pengurus di
tengah masyarakat? Apa saja yang selama ini dilakukan oleh Lingkungan dan
Stasi kita untuk mendukung saudara-saudari yang mengabdi masyarakat? Apa
saja kegiatan Lingkungan dan Stasi yang telah dilakukan untuk menghadirkan
Gereja di tengah masyarakat? Apa usaha yang dapat dilakukan agar Lingkungan
dan Stasi kita menjadi relevan bagi kehidupan warga masyarakat?
DOA UMAT (dipersilakan menyampaikan doa-doa spontan)
Doa Ardas Tahun 2026
Mendewasakan Hidup Berparoki
Melalui Perwujudan
Panca Tugas Gereja
(didoakan bersama)
Allah Bapa yang Mahakasih,
Engkaulah sumber dan tujuan kerinduan setiap manusia untuk menjadi kudus.
Melalui peribadatan yang benar, sakral, dan agung, khususnya dalam Ekaristi,
kami menyembah-Mu dan ambil bagian dalam karya keselamatan-Mu bagi dunia
yang lebih baik.
Tuhan Yesus,
Seperti para rasul telah Kauutus, demikian pula Engkau mengutus kami.
Utuslah kami menjadi pewarta Injil, pelaku keadilan, pembela kebenaran,
saksi kasih, pembangun persekutuan, pelopor persaudaraan sejati, serta
pejuang kelestarian alam.
Ya Roh Kudus,
Jiwailah kami dengan semangat mulia seperti yang Kaucurahkan kepada para
misionaris pendahulu kami melalui karya sosial, kesehatan, dan khususnya
pendidikan. Kobarkanlah kembali semangat solidaritas, subsidiaritas, dan
tanggung jawab kami untuk menyelamatkan, memulihkan, dan mengembangkan
Pendidikan Katolik di Keuskupan Surabaya, demi tegaknya kembali identitas
dan misi sebagaimana Tuhan kehendaki.
Bersama Bunda Maria, pengantara segala rahmat, kami tidak takut untuk
berharap. Kami percaya akan penyelenggaraan ilahi-Mu. Kami persembahkan
segala upaya dan pengorbanan demi kemuliaan-Mu, kini dan sepanjang masa.
Amin.
DOA BAPA KAMI
PENUTUP
Doa Penutup
Syukur kepada-Mu Allah Tritunggal Mahakudus, sebab kami telah Engkau
dampingi dan Engkau berkati dalam pertemuan kami hari ini. Engkau
menyadarkan perutusan kami, sebagai GerejaMu, di tengah masyarakat. Melalui
kami, umat Lingkungan dan Stasi, warga masyarakat mengenal dan mengalami
Kasih Kristus bagi semua manusia tanpa perbedaan apapun. Jangan biarkan kami
menutup diri dan tidak peduli pada kehidupan warga masyarakat di sekitar
kami. Utuslah Roh KudusMu untuk menerangi kehidupan kami sehingga menjadi
garam dan terang bagi warga masyarakat. Demi kemuliaan NamaMu, ya Tritunggal
Mahakudus, kini dan sepanjang segala masa, amin.
Berkat Penutup
Marilah kita hening sejenak, mohon berkat Tuhan bagi kita yang hadir di
sini, bagi keluarga dan juga bagi umat di lingkungan/stasi. Semoga kita
semua, seluruh anggota keluarga dan saudara kita di lingkungan/stasi . . .
senantiasa dibimbing dan dilindungi oleh berkat Allah Yang Mahakuasa: Dalam
Nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, Amin.
Lagu Penutup (jika diperlukan, dapat dipilih sendiri)
BAHAN PENDALAMAN IMAN AKSI PUASA PEMBANGUNAN (APP)
UMAT LINGKUNGAN/STASI
KEUSKUPAN SURABAYA TAHUN 2026