APP 2026

BAHAN PENDALAMAN IMAN AKSI PUASA PEMBANGUNAN (APP)
UMAT LINGKUNGAN/STASI
KEUSKUPAN SURABAYA TAHUN 2026

 

Logo APP 2026

PERTEMUAN IV

KEHADIRAN GEREJA DI TENGAH MASYARAKAT


PEMBUKAAN

Lagu Pembuka (jika diperlukan, dapat dipilih sendiri)


Tanda Salib dan Salam

Pengantar

Saudara-saudari,
Terimakasih atas kesetiaan mengikuti proses pertobatan di masa prapaskah ini. Syukur kepada Allah kita telah bertekun sampai pertemuan keempat. Pertemuan keempat ini tidak dapat dipisahkan dari ketiga pertemuan sebelumnya. Pertemuan pertama, kita diajak untuk memahami kembali apa itu paroki. Pertemuan kedua, kita disadarkan bahwa berparoki berarti menggereja bersama. Kehidupan paroki adalah urusan bersama. Dalam pertemuan ketiga, kita diajak menyadari bahwa dalam hidupnya, paroki bergantung pada akarnya, yaitu Lingkungan dan Stasi. Sebagai akar paroki, Lingkungan dan Stasi menopang kehidupan paroki. Tidak mungkin paroki menjadi kuat jika akarnya tidak kuat juga.
Saudara-saudari,
Dalam pertemuan keempat ini kita diajak untuk menyadari bahwa Gereja hidup di tengah masyarakat. Gereja tidak dapat dipisahkan dari masyarakat. Bahkan oleh Tuhan Yesus, kita sebagai murid-muridNya diutus menjadi terang dan garam masyarakat. Dan warga masyarakat mengenal Gereja dari warga Lingkungan yang langsung bercampur dengan warga masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Maka dalam pertemuan keempat ini kita menyadari kembali  kehadiran Gereja di  Tengah  Masyarakat. Mari  kita  hening sejenak mempersiapkan diri kita untuk mengawali pertemuan keempat.


Doa Pembuka
Ya Bapa yang Mahakasih, syukur kami haturkan kepadaMu, karena sebagai persekutuan umatMu, kami dapat bertekun dalam perjalanan tobat di masa prapaskah ini. Tiga pertemuan telah kami lewati dengan penuh syukur. Dalam pertemuan keempat ini kami akan  merenungkan kembali  kehadiran kami  sebagai  Gereja-Mu di  tengah  masyarakat. Sebagai murid-murid Kristus kami diutus mewartakan Kasih-Mu di tengah masyarakat. Utuslah Roh Kudus-Mu untuk menerangi pertemuan kami ini sehingga kami dapat menghasilkan buah pertobatan yang berguna bagi warga masyarakat di sekitar kami. Demi kemuliaan Nama-Mu, kini dan sepanjang masa, Amin.


BELAJAR DARI PENGALAMAN
Beberapa pengurus Lingkungan sedang bertemu di rumah Bapak Heri, ketua Lingkungan. Mereka membicarakan pergantian pengurus Lingkungan. Namun mereka mengalami kesulitan karena Pak Cipto yang dipilih menjadi ketua Lingkungan, tidak bersedia. Demikian juga Ibu Endang, yang dipilih menjadi seksi Liturgi, juga tidak bersedia. Entah kebetulan atau tidak, alasan Pak Cipto dan Ibu Endang, sama. Yaitu mereka sudah menjadi Ketua RT dan Sekretaris RW. Mereka berdua tinggal di RT yang berbeda, namun masih dalam satu Lingkungan.
Pak Heri membuka pembicaraan: Siapa ya yang menggantikan Pak Cipto dan Ibu Endang untuk menjadi Ketua dan Seksi Liturgi? Mereka berdua, rupanya tidak bersedia karena telah menjadi pengurus RT dan RW. Pak Cipto menjadi ketua RT I dan Ibu Endang menjadi sekretaris RW III. Padahal sudah lama kita mengincar Pak Cipto dan Ibu Endang menjadi pengurus Lingkungan.
Ibu Vero menyambung: mestinya yang didahulukan ya Gereja, bukan RT atau RW. Gereja lebih penting dari RT dan RW. RT dan RW banyak yang mau menjadi pengurus. Sedangkan di Gereja, orangnya terbatas
Ibu Heni ikut bicara: Ya tidak demikian, Bu. Keduanya penting. Gereja penting, RT dan RW juga penting. Kita kan hidup di RT dan RW. Kita mencari yang lain saja. Tentu mereka keberatan jika menjadi pengurus Lingkungan. Kita harus bagi-bagi tugas: ada yang mengurus Gereja, tetapi ada yang mengurus masyarakat, RT dan RW.
Ibu  Vero  menjawab: Mereka  lebih  diperlukan  di  Lingkungan daripada  di  RT-RW. Bagaimana kita mengurus rumah tangga orang lain sedangkan rumah tangga sendiri tidak ada yang mengurus. Lagian, apa faedahnya menjadi pengurus RT-RW, toh kita ya tetap saja warga RT-RW tidak menghormati kita. Mengadakan Natalan RT-RW saja tidak boleh. Lalu apa gunanya menjadi pengurus RT-RW?
Pak  Hendro menyambung: Tuhan Yesus mengajarkan bahwa kita harus  menjadi garam dan terang dunia. Ini berarti umat Katolik harus mempengaruhi kehidupan masyarakat di sekitarnya. Salah satu yang dapat dilakukan untuk mempengaruhi masyarakat adalah menjadi pengurus RT-RW. Justru kita harus mendukung Pak Cipto dan Ibu Endang yang menjadi pengurus RT-RW.
Ibu Vero lebih bersemangat menjawab: Ya percuma Pak Hendro...... Mereka ikut memajukan RT-RW tetapi tidak terlibat dalam Lingkungan. Waktu mereka habis untuk mengurusi RT-RW. Apa manfaatnya untuk Gereja?
Ibu Rini menyambung: Ya.....kita ini hidup di tengah masyarakat. Gereja hadir di tengah masyarakat. Maka Gereja harus peduli dengan masyarakat. Ibu Endang dan Pak Cipto menghadirkan Gereja di tengah masyarakat. Mereka menjalankan tugas perutusan di tengah masyarakat. Sedangkan kita, menjalankan tugas perutusan di dalam Gereja.

Pendalaman Pengalaman
Dari dialog di  atas: Saudara-saudari setuju pendapat siapa? Mengapa? (beri penjelasan singkat saja)

BELAJAR DARI AJARAN GEREJA. Pemandu (atau yang ditugaskan) membacakan dengan jelas, dan tidak perlu terburu buru. Dapat dibacakan dua kali jika diperlukan. Peserta diberi waktu hening beberapa saat untuk membaca secara pribadi dan menemukan kata atau kalimat yang berkesan (menarik).

Saudara-saudari terkasih,
mari kita membaca Buku Seri Mupas 1, butir D.6, halaman 29. Saya akan membacakan terlebih dahulu, kemudian dipersilakan saudara-saudari membacanya secara pribadi dan memberi tanda pada kata atau kalimat yang berkesan.

Buku Seri Musyawarah Pastoral 1 (Butir D.6, Hal. 29)
Gereja adalah persekutuan, bukan sekedar paguyuban duniawi. Perbedaan antara persekutuan dan paguyuban duniawi terletak dalam hal pusat, tujuan dan cara mewujudkannya. Jemaat perdana, sebagai suatu persekutuan menempatkan Kristus sebagai pusat hidupnya. Persekutuan dengan Allah adalah tujuannya. Jemaat ini mengungkapkan diri dalam cara hidup yang khas, yang biasa kita sebut sebagai pancatugas Gereja: koinonia, liturgia, kerygma, martyria dan diakonia. Di dalam cara hidup seperti ini, diakonia (pelayanan) merupakan tindakan kepedulian yang mengalir dari semangat persekutuan yang hidup dari Ekaristi. Para murid Kristus saling melayani di antara mereka dan melayani masyarakat untuk ambil bagian dalam karya penyelamatan Kristus bagi dunia seperti roti yang dipecah dan dibagikan. Ekaristi menjadi unsur pembeda antara persekutuan murid-murid Kristus dan paguyuban pada umumnya. Persekutuan menjadi signifikan berkat Ekaristi. Selanjutnya, pelayanan yang mengalir dari Ekaristi membuat Persekutuan menjadi relevan, menampilkan wajah konkret Ekaristi dan menjadikan para murid pengabdi masyarakat dan bangsa. Roh Kasih Kristus tidak tinggal diam tetapi mengalir keluar dan berbuah dalam aksi kemurahan hati.
 

Pendalaman Ajaran Gereja
1.  Dari ajaran Gereja tersebut, kata atau ungkapan apa yang menarik bagi saudara- saudari? (baca saja, tidak perlu dijelaskan)
2.  Menurut saudara-saudari apa yang membedakan Persekutuan murid-murid Kristus dengan Paguyuban duniawi?
3.  Menurut  saudara-saudari, apa  artinya  para  murid  Kristus  melayani  masyarakat sebagai wujud ambil bagian dalam karya penyelamatan Kristus bagi dunia seperti roti Ekaristi yang dipecah dan dibagikan? Jelaskan singkat saja
 

Penegasan (dibacakan Pemandu dengan pelan dan jelas)

Saudara-saudari,
Pada Musyawarah Pastoral II, tahun 2019 yang lalu telah ditetapkan dua hal mendasar bagi keuskupan Surabaya. Pertama, melanjutkan Arah Dasar Keuskupan yang ditetapkan dalam Musyawarah Pastoral I, 2009, yaitu persekutuan murid-murid Kristus yang semakin dewasa dalam iman, guyub, penuh pelayanan dan misioner. Kedua, menetapkan pilihan pastoral strategis 2020-2030, yaitu pendewasaan Paroki berakar Lingkungan yang hadir di tengah masyarakat. Dalam pertemuan keempat ini, kita diajak untuk mendalami makna Lingkungan sebagai kehadiran Gereja di tengah masyarakat.
Pertama-tama dalam ajaran Gereja yang kita baca tadi dinyatakan bahwa Gereja adalah persekutuan, bukan sekedar paguyuban duniawi. Perbedaanya antara persekutuan dan paguyuban duniawi terletak dalam hal pusat, tujuan dan cara mewujudkannya. Dengan demikian menjadi jelas bahwa persekutuan umat Lingkungan berbeda dengan paguyuban warga masyarakat lainnya. Perbedaannya terletak pada pusat, tujuan dan perwujudannya.
Paguyuban masyarakat pusatnya dapat bermacam-macam sesuai kebutuhan dan kepentingan, misalnya hobi, profesi, satu suku atau daerah, saudara seketurunan, berasal dari sekolah yang sama, dll. Sedangkan pusat dari persekutuan umat Lingkungan adalah Tuhan Yesus. Berapapun usianya, apapun jenis kelaminnya, berasal dari suku manapun, apapun hobinya, keturunan siapapun, apapun status sosial dan profesinya disatukan oleh pemersatu yang sama, yaitu Tuhan Yesus. Tuhan Yesus adalah pusat hidup persekutuan umat Lingkungan. Adapun tujuan persekutuan umat Lingkungan adalah bersekutu dengan Allah. Bersekutu atau bersatu dengan Allah inilah yang sering kita sebut iman. Maka apapun yang dilakukan di Lingkungan, sekecil dan sesederhana apapun merupakan ungkapan atau perwujudan iman.


Saudara-saudari,
Ungkapan atau perwujudan iman ini merupakan cara hidup umat Lingkungan. Cara hidup yang diwarisi dari Gereja Perdana ini memiliki 5 aspek atau sering disebut Panca Tugas Gereja. Yaitu: koinonia (persekutuan), liturgia (peribadatan), kerygma (pewartaan), martyria (kesaksian) dan diakonia (pelayanan masyarakat). Dalam pertemuan ketiga yang lalu, kita sudah mendalami 5 aspek cara hidup Gereja ini. Selanjutnya Gereja mengajarkan bahwa cara hidup seperti itu, mengalirkan tindakan kepedulian persekutuan yang hidup dari ekaristi. Maka umat yang hidup dari Ekaristi akan mengalirkan tindakan kepedulian baik ke dalam, yaitu bagi umat Lingkungan; maupun ke luar, bagi masyarakat sekitar. Tindakan kepedulian ini merupakan ambil bagian dalam karya keselamatan Kristus bagi dunia, seperti roti yang dipecah dan dibagikan dalam Ekaristi. Dipecah dan dibagi itu menyakitkan. Maka roti yang dipecah dan dibagi menyatakan kesediaan tulus berkurban. Betapa mendalam nilai iman kesediaan warga Lingkungan untuk peduli dan terlibat dalam kehidupan Lingkungan maupun masyarakat. Sekecil dan sesederhana apapun keterlibatan tulus umat dalam aneka kegiatan Lingkungan dan masyarakat adalah seperti Kristus yang hadir dalam Ekaristi, Roti yang dipecah dan dibagikan.
Oleh karena itu selanjutnya ditegaskan bahwa Ekaristi menjadi unsur pembeda antara persekutuan murid-murid Kristus dan paguyuban pada umumnya. Persekutuan menjadi signifikan berkat Ekaristi. Menjadi signifikan berarti menjadi sungguh bermakna. Tentu saja yang dimaksud dalam hal ini adalah bermakna iman. Dengan demikian persatuan dengan
Tuhan Yesus dalam Ekaristi sungguh bermakna jika diwujudkan dengan keterlibatan dalam cara hidup yang nyata di Lingkungan melalui 5 aspeknya.


Saudara-saudari,
Selain menjadi signifikan, Ekaristi juga membuat persekutuan murid Kristus menjadi relevan jika mengalirkan pelayanan bagi warga masyarakat di sekitar. Secara sederhana menjadi relevan berarti memiliki arti, berguna, bermanfaat bagi masyarakat. Gereja didirikan oleh Tuhan Yesus bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk dunia, untuk masyarakat. Maka Gereja diutus untuk menjadi terang dan garam dunia. Hidup dan perutusan Gereja bukanlah untuk dirinya sendiri, tetapi untuk masyarakat di sekitarnya. Maka jika Gereja sebagai persekutuan murid Kristus tidak mengambil bagian dalam pengabdian bagi masyarakat, kehidupan Gereja menjadi tidak relevan. Dengan kata lain, jika Gereja hanya sibuk dengan kegiatannya sendiri, maka Gereja mengingkari perutusan yang dipercayakan Tuhan Yesus kepada Gereja.
Melalui  persekutuan umat  Lingkungan, kehadiran  Gereja  paling  dirasakan oleh  warga masyarakat. Jika umat Lingkungan ramah bagi warga masyarakat, maka Gereja Katolik akan dikenal sebagai Gereja yang ramah. Jika umat Lingkungan murah hati dan cepat menolong warga masyarakat yang menderita dan membutuhkan, maka Gereja Katolik akan dikenal warga masyarakat sebagai Gereja yang murah hati. Jika umat Lingkungan tulus terlibat dalam kepengurusan RT/RW, maka Gereja akan dikenal warga masyarakat sebagai Gereja yang peduli pada masyarakat. Oleh karena itu, melalui umat Lingkungan, Gereja dipengaruhi oleh kehidupan masyarakat dan sebaliknya, Gereja dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat.


Saudara-saudari,
Kehidupan umat Katolik menjadi signifikan bagi persekutuan di Lingkungan dan relevan bagi warga masyarakat adalah dua sisi dari satu mata uang. Sebagai akar paroki, Lingkungan memiliki dua hal penting yang tidak dapat dipisahkan, yaitu signifikasi ke dalam: menguatkan persekutuan Gereja dengan 5  aspek kehidupannya dan relevansi ke  luar: menjadi garam dan terang masyarakat. Dua hal penting ini bersumber dari Ekaristi. Maka betapa penting Ekaristi sebagai sumber hidup bagi warga Lingkungan.
 

Saudara-saudari,
Gereja diutus Tuhan Yesus untuk menjadi garam dan terang bagi masyarakat. Perutusan ini memperoleh kekuatan ilahi dari Ekaristi. Bagaimana selama ini peran saudara-saudari dalam kehidupan masyarakat di sekitar? Siapa saja dari warga Lingkungan dan Stasi yang selama ini bersedia menjadi pengurus di tengah masyarakat? Apa saja yang selama ini dilakukan oleh Lingkungan dan Stasi kita untuk mendukung saudara-saudari yang mengabdi masyarakat? Apa saja kegiatan Lingkungan dan Stasi yang telah dilakukan untuk menghadirkan Gereja di tengah masyarakat? Apa usaha yang dapat dilakukan agar Lingkungan dan Stasi kita menjadi relevan bagi kehidupan warga masyarakat?

DOA UMAT (dipersilakan menyampaikan doa-doa spontan)

Doa Ardas Tahun 2026
Mendewasakan Hidup Berparoki
Melalui Perwujudan Panca Tugas Gereja
(didoakan bersama)


Allah Bapa yang Mahakasih,
Engkaulah sumber dan tujuan kerinduan setiap manusia untuk menjadi kudus. Melalui peribadatan yang benar, sakral, dan agung, khususnya dalam Ekaristi, kami menyembah-Mu dan ambil bagian dalam karya keselamatan-Mu bagi dunia yang lebih baik.

Tuhan Yesus,
Seperti para rasul telah Kauutus, demikian pula Engkau mengutus kami. Utuslah kami menjadi pewarta Injil, pelaku keadilan, pembela kebenaran, saksi kasih, pembangun persekutuan, pelopor persaudaraan sejati, serta pejuang kelestarian alam.

Ya Roh Kudus,
Jiwailah kami dengan semangat mulia seperti yang Kaucurahkan kepada para misionaris pendahulu kami melalui karya sosial, kesehatan, dan khususnya pendidikan. Kobarkanlah kembali semangat solidaritas, subsidiaritas, dan tanggung jawab kami untuk menyelamatkan, memulihkan, dan mengembangkan Pendidikan Katolik di Keuskupan Surabaya, demi tegaknya kembali identitas dan misi sebagaimana Tuhan kehendaki.

Bersama Bunda Maria, pengantara segala rahmat, kami tidak takut untuk berharap. Kami percaya akan penyelenggaraan ilahi-Mu. Kami persembahkan segala upaya dan pengorbanan demi kemuliaan-Mu, kini dan sepanjang masa.

Amin.



DOA BAPA KAMI

 

PENUTUP


Doa Penutup
Syukur kepada-Mu Allah Tritunggal Mahakudus, sebab kami telah Engkau dampingi dan Engkau berkati dalam pertemuan kami hari ini. Engkau menyadarkan perutusan kami, sebagai GerejaMu, di tengah masyarakat. Melalui kami, umat Lingkungan dan Stasi, warga masyarakat mengenal dan mengalami Kasih Kristus bagi semua manusia tanpa perbedaan apapun. Jangan biarkan kami menutup diri dan tidak peduli pada kehidupan warga masyarakat di  sekitar kami. Utuslah Roh  KudusMu  untuk menerangi kehidupan kami sehingga menjadi garam dan terang bagi warga masyarakat. Demi kemuliaan NamaMu, ya Tritunggal Mahakudus, kini dan sepanjang segala masa, amin.


Berkat Penutup
Marilah kita hening sejenak, mohon berkat Tuhan bagi kita yang hadir di sini, bagi keluarga dan juga bagi umat di lingkungan/stasi. Semoga kita semua, seluruh anggota keluarga dan saudara kita di lingkungan/stasi . . . senantiasa dibimbing dan dilindungi oleh berkat Allah Yang Mahakuasa: Dalam Nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, Amin.

Lagu Penutup (jika diperlukan, dapat dipilih sendiri)
 



BAHAN PENDALAMAN IMAN AKSI PUASA PEMBANGUNAN (APP)
UMAT LINGKUNGAN/STASI
KEUSKUPAN SURABAYA TAHUN 2026