PERTEMUAN III
PAROKI BERAKAR LINGKUNGAN
PEMBUKAAN
Lagu Pembuka (jika diperlukan, dapat dipilih sendiri)
Tanda Salib dan Salam
Pengantar
Saudara-saudari,
Dua pertemuan telah kita lalui bersama dalam perjalanan tobat kita di Masa
Prapaska 2026 ini. Pada pertemuan pertama, kita diajak untuk memahami
tentang apa itu paroki. Paroki merupakan persekutuan umat beriman yang
dibentuk secara tetap dalam batas-batas teritorial tertentu.
Persekutuan umat beriman ini digembalakan oleh pastor paroki sebagai
gembalanya sendiri. Dalam menggembalakan umat beriman ini, pastor paroki
menghadirkan penggembalaan Uskup.
Setelah kita memahami apa itu paroki, dalam pertemuan kedua kita diajak
untuk menyadari bahwa berparoki adalah menggereja bersama. Hidup berparoki
adalah urusan bersama semua umat beriman. Untuk itu diperlukan pembagian
tugas yang jelas dan teratur sehingga masing-masing dapat berkarya sesuai
perannya dan dapat saling bekerjasama mengembangkan paroki. Oleh karena
itulah dibentuk kepengurusan dalam paroki mulai dari Lingkungan, stasi,
wilayah, berbagai organisasi. Semua itu terhimpun dalam kepengurusan Dewan
Pastoral Paroki dan Badan Gereja Katolik Paroki.
Saudara-saudari,
Pada pertemuan ketiga ini, kita diajak untuk menyadari bahwa semua paroki
dibagi lagi dalam komunitas umat Lingkungan dan Stasi. Komunitas umat
Lingkungan dan Stasi ini menopang kehidupan paroki. Oleh karena itulah,
Lingkungan dan Stasi dinyatakan sebagai akar paroki. Dengan demikian paroki
akan tumbuh kuat jika akarnya juga kuat. Maka marilah kita siapkan hati
untuk mendalami kehidupan Lingkungan dan Stasi sebagai akar Paroki.
Doa Pembuka
Bapa Yang Mahakasih, kami bersyukur Engkau mengumpulkan kami kembali
dalam persekutuan murid-murid Kristus. Dalam pertemuan ketiga masa tobat
prapaskah ini kami akan menyadari kembali bahwa kehidupan kami di Lingkungan
dan Stasi menjadi akar Gereja Paroki. Utuslah Roh Kudus-Mu untuk membimbing
pertemuan kami ini sehingga kami dapat menghasilkan buah pertobatan untuk
menguatkan Lingkungan dan Stasi sebagai akar paroki. Berkatilah para
pengurus Lingkungan dan Stasi beserta keluarganya. Berkati juga seluruh umat
Lingkungan dan Stasi. Semoga dengan berkat-Mu, kami semua semakin beriman
dalam menguatkan Lingkungan dan Stasi. Demi kemuliaan NamaMu, kini dan
sepanjang masa, Amin.
BELAJAR DARI
PENGALAMAN
Hampir semua Lingkungan di sebuah Paroki melaksanakan ziarah dalam
rangka tahun Yubelium 2025. Pesertanya selalu banyak, lebih dari 40 umat,
mulai dari anak-anak sampai yang sepuh-sepuh. Bahkan ada Lingkungan yang
melakukan ziarah lebih dari dua kali di tempat yang berbeda dan jaraknya
jauh. Semua antusias mengikuti ziarah. Warga Lingkungan yang tidak pernah
muncul dalam kegiatan Lingkungan-pun ikut ziarah juga dengan wajah
berseri-seri. Sungguh nampak guyub.
Sesampainya di tempat ziarah, setelah doa Jalan Salib bersama, beberapa umat
duduk beristirahat sejenak sebelum melanjutnya perjalanan ke tempat ziarah
lainnya.
Ibu Sri, salah seorang umat yang duduk di situ berkomentar: meski
sudah dua kali berziarah dalam 7 bulan ini, umat tetap banyak yang ikut.
Mereka rupanya senang ya kalau diajak ziarah. Dalam ziarah seperti ini
nampak Lingkungan kita guyub dan rukun. Ibu Dewi yang di sebelahnya
menanggapi: jelas lah bu, seneng sekali jika ziarah seperti ini. Ini kan
juga jalan-jalan, rekreasi, refreshing, healing......healing. Jika bisa
ziarah seperti ini setiap tahun dua kali, pasti Lingkungan kita semakin
guyub.
Kemudian Bapak Jono menyahut: Rasanya Lingkungan kita ini yang paling
baik separoki. Jika ada lomba Lingkungan, pasti Lingkungan kita nomor satu.
Sangat guyub dan rukun. Yang tidak pernah datang dalam kegiatan Lingkungan
pun, sekarang ini ikut.
Bapak Frans ikut menyambung: iya ya....... Itu tuh bapak dan ibu
siapa itu namanya....... Aku tidak kenal. Doa tidak pernah datang, latihan
koor tidak pernah ikut, ada warga yang meninggal juga tidak nampak, sekarang
mau ikut ziarah...... ini menunjukkan Lingkungan kita guyub rukun.
Mendengar obrolan itu semua, Adit, anak ibu Dewi, mbatin dalam hatinya:
seperti apa ya Lingkungan sebagai akar paroki itu? Padahal Adit tahu
persis, ketika latihan koor, yang datang itu-itu saja. Kalau ada warga yang
meninggal, paling hanya seksi Liturgi dan ketua Lingkungan yang membantu.
Ketika pendalaman iman, paling banyak 10 orang sudah dengan tuan rumah. Jika
doa Rosario agak banyak, 15 umat yang hadir. Kunjungan umat yang sepuh dan
sakit, ya tidak pernah. Diminta urunan membantu uang sekolah bagi yang tidak
mampu, jawabannya itu urusan paroki. Tapi kalau ziarah, mampu membiayai.
Dalam hatinya Adit bertanya: seperti apa ya Lingkungan sebagai akar paroki
itu?
Mendalami Pengalaman
Bagaimana jawaban saudara-saudari, atas pertanyaan Adit tentang
Lingkungan sebagai akar paroki?
BELAJAR DARI AJARAN GEREJA. Pemandu (atau yang ditugaskan) membacakan
dengan jelas, dan tidak perlu terburu buru. Dapat dibacakan dua kali jika
diperlukan. Peserta diberi waktu hening beberapa saat untuk membaca secara
pribadi dan menemukan kata atau kalimat yang berkesan (menarik).
Saudara-saudari
terkasih,
mari kita membaca Pedoman Pastoral Pengurus Lingkungan, Keuskupan Surabaya,
halaman 12. Saya akan membacakan terlebih dahulu, kemudian dipersilakan
saudara- saudari membacanya secara pribadi dan memberi tanda pada kata atau
kalimat yang berkesan
Pedoman Pastoral Pengurus Lingkungan (Hal. 12)
Sebagai bentuk kehidupan menggereja paling mendasar, lingkungan menjadi
tempat yang paling utama dalam pembentukan atau pembangunan umat Allah.
Lingkungan adalah akar dari gereja partikular: menyokong dan memperkokoh
kehidupan paroki, meresapi dan meresapkan nilai-nilai Injil, serta membawa
dan menghadirkan nilai- nilai Injil di tengah masyarakat. Oleh sebab itu,
lingkungan, sebagai komunitas kecil umat, yang terdiri dari murid-murid
Kristus yang berkeluarga maupun pribadi kristiani yang mengupayakan
kekudusan merupakan cara hidup menggereja dengan senantiasa hidup
berkomunitas melalui doa bersama, membaca dan merenungkan Sabda Allah, serta
mendalami ajaran Gereja dan merayakan Ekaristi (bdk. Kis 2:42).
Kesadaran bahwa lingkungan menjadi akar dari gereja paroki ini memberikan
panggilan akan upaya pembentukan lingkungan yang subur karena Gereja
tanpa lingkungan menjadi gereja yang "timpang", atau "cacat". Sebaliknya,
Gereja akan bertumbuh bilamana lingkungan ini bertumbuh dan diperhatikan.
Maka, lingkungan perlu mendapatkan perhatian dari Imam Paroki, gembala yang
diserahi "reksa pastoral jemaat yang dipercayakan kepadanya dibawah otoritas
Uskup diosesan yang dipanggil mengambil bagian dalam pelayanan Kristus"
(bdk. KHK Kan 519). Perhatian ini juga dilakukan karena murid-murid Kristus
dipanggil untuk hadir di masyarakat untuk menjadi "garam dan terang dunia"
(Mat 5:13-16).
Pendalaman Ajaran Gereja
1. Dari ajaran Gereja tersebut, kata atau ungkapan apa yang menarik
bagi saudara- saudari? (baca saja, tidak perlu dijelaskan)
2. Menurut saudara-saudari, apa artinya Lingkungan merupakan akar paroki?
3. Lingkungan adalah akar paroki. Maka Gereja tanpa Lingkungan menjadi
gereja yang timpang atau cacat. Mengapa?
Penegasan (dibacakan Pemandu dengan pelan dan jelas)
Saudara-saudari,
Setiap paroki di Keuskupan Surabaya terdiri dari komunitas-komunitas kecil
yang disebut Lingkungan dan Stasi. Meskipun demikian, sebagian umat Katolik
ada yang mengabaikan komunitas umat Lingkungan dan Stasi dengan berbagai
alasan. Namun ajaran Gereja tadi menyatakan bahwa lingkungan menjadi tempat
yang paling utama dalam pembentukan atau pembangunan umat Allah.
Lingkungan ini memiliki batas-batas teritorial tertentu. Setiap Lingkungan
digembalakan oleh pengurus Lingkungan dan Stasi yang terdiri dari Ketua,
Sekretaris, Bendahara, dan beberapa seksi. Bersama romo-romo, pengurus
Lingkungan ini menggembalakan seluruh umat di paroki. Bisa dibayangkan
bagaimana jadinya sebuah paroki tanpa Lingkungan dan Stasi? Pasti dalam
banyak hal kehidupan menggereja di sebuah paroki tidak berjalan dengan baik.
Gereja Keuskupan Surabaya dalam ajarannya di atas menyatakan bahwa
Lingkungan menjadi tempat paling utama dalam pembentukan atau pembangunan
umat Allah. Oleh karena itu selanjutnya ditegaskan bahwa Lingkungan adalah
akar dari gereja partikular: menyokong dan memperkokoh kehidupan paroki,
meresapi dan meresapkan nilai-nilai Injil, serta membawa dan menghadirkan
nilai-nilai Injil di tengah masyarakat.
Saudara-saudari,
Sebagai tempat paling utama dalam pembentukan atau pembangunan umat Allah,
Lingkungan ditegaskan sebagai akar gereja partikular. Yang dimaksud dengan
Gereja partikular dalam Gereja setempat atau paroki. Maka betapa pentingnya
kehidupan Lingkungan bagi paroki. Bisa dibayangkan pentingnya akar bagi
tumbuhnya sebuah pohon. Tanpa akar, pohon tidak akan tumbuh. Jika akarnya
kuat, maka pohon itu akan tumbuh dengan subur dan kuat. Oleh karena itu,
sebagai akar, Lingkungan menyokong dan memperkokoh kehidupan paroki. Dengan
demikian, kehidupan umat Lingkungan sangat mempengaruhi kehidupan paroki.
Banyak hal yang dilakukan di paroki berasal dan ditentukan oleh Lingkungan.
Mulai dari perayaan Liturgi hari Minggu dengan berbagai tugas, sampai
peristiwa-peristiwa seperti: kematian; kegiatan anak-anak sampai lanjut
usia; membantu mereka yang membutuhkan sampai kunjungan orang sakit;
penerimaan semua sakramen sampai partisipasi dalam kehidupan di tengah
masyarakat. Semuanya tidak dapat dipisahkan dari Lingkungan.
Saudara-saudari,
Sebagai akar paroki, komunitas umat Lingkungan meresapi dan meresapkan
nilai-nilai Injil. Meresapi lebih menunjuk pada menyerap nilai-nilai injil
untuk dijadikan miliknya. Sedangkan meresapkan menunjuk pada menjadikan
nilai-nilai injil masuk dalam kehidupan bersama, baik di Lingkungan,
dalam pekerjaan sehari-hari
maupun dalam masyarakat. Meresapi dan meresapkan nilai- nilai injil ini
merupakan cara hidup Gereja yang memiliki lima aspek, yaitu:
1. Pewartaan atau Kerygma, yaitu iman yang diwartakan dalam
bentuk pengajaran dan penyampaian (penerusan) warta keselamatan kepada semua
orang. Aspek ini meliputi: pelajaran agama kepada para calon baptis, calon
penerima komuni pertama, calon penerima sakramen krisma, calon
temanten, pengajaran iman berjenjang: anak, remaja, orang muda, keluarga dan
lansia, pendalaman iman, pendalaman kitab suci, rekoleksi, berbagai bentuk
pembinaan, retret, dll.
2. Peribadatan atau Liturgia, yaitu iman yang dirayakan dalam
liturgi. Liturgi dapat dibedakan menjadi dua: (1) liturgi sakramental:
Baptis, Krisma, Ekaristi, Pengakuan Dosa, Perminyakan (orang sakit),
Pernikahan, dan Imamat; (2) liturgi non sakramental: ibadat sabda mingguan,
penerimaan komuni lansia dan orang sakit, ibadat sabda dengan ujub khusus,
misalnya ulang tahun kelahiran, ulang tahun perkawinan, peringatan arwah,
syukuran, sunatan, pemberkatan rumah tanpa ekaristi, mohon berkat atas
tanaman, syukur atas panenan, pitonan, midodareni, perayaan sabda hari
nasional, tirakatan, rosario, jalan salib, dll.
3. Persekutuan atau Koinonia, iman yang menyatukan sebagai saudara satu sama
lain, yaitu pertemuan-pertemuan, kunjungan orang sakit, kunjungan warga,
penerimaan warga baru, membantu warga lingkungan dengan uang sekolah,
makanan, kesehatan, dll.
4. Kesaksian atau Martyria, iman yang memancar keluar sehingga
orang lain (yang belum mengenal dan menerima Kristus) mengalami keyakinan
dan kebenaran iman, yaitu penghayatan perkawinan yang monogami dan tak
terceraikan, menyuarakan dan memperjuangkan kejujuran dan keadilan, cara
bicara yang menghargai orang lain dan dapat dipercaya, bersaudara dengan
siapa pun tanpa diskriminasi, dll.
5. Pelayanan masyarakat atau Diakonia, iman yang dihayati dalam
pengabdian kepada masyarakat antara lain menjadi pengurus RT/RW dan
organisasi masyarakat, melayat yang bukan katolik, membantu
siapa pun yang bukan Katolik (uang sekolah, makanan, kesehatan), kebersihan
lingkungan hidup, kerja bakti, memberi pinjaman dan pemberian modal usaha,
dll. Dalam pelayanan ini warga lingkungan mengutamakan pelayanan bagi mereka
yang lemah, miskin, sakit, menderita, lansia dan difabel.
Saudara-saudari,
Gereja keuskupan Surabaya mengajak semua imam dan umat untuk menyadari bahwa
Lingkungan merupakan akar Gereja Paroki. Kesadaran ini hendaknya
melahirkan upaya terus menerus untuk membentuk Lingkungan yang subur.
Karena tanpa Lingkungan, Gereja menjadi "timpang atau cacat". Ditegaskan
dalam ajaran di atas bahwa Gereja akan bertumbuh bilamana lingkungan ini
bertumbuh dan diperhatikan. Selanjutnya, dinyatakan bahwa lingkungan perlu
mendapatkan perhatian dari Imam Paroki, gembala yang diserahi "reksa
pastoral jemaat yang dipercayakan kepadanya dibawah otoritas
Uskup diosesan yang dipanggil mengambil bagian dalam pelayanan Kristus".
Perhatian ini juga dilakukan karena murid-murid Kristus dipanggil untuk
hadir di masyarakat untuk menjadi "garam dan terang dunia" (Mat 5:13-16).
Maka sungguh sangat diperlukan kesadaran dan kerjasama dari para imam dan
seluruh umat untuk memperkuat kehidupan umat Lingkungan.
Saudara-saudari,
Bagaimana selama ini keterlibatan umat Lingkungan dan Stasi dalam setiap
kegiatan yang dilaksanakan? Apa saja yang selama ini mendukung terlaksananya
kegiatan di Lingkungan dan Stasi? Apa saja yang selama ini menjadi hambatan
pelaksanaan kegiatan di Lingkungan dan Stasi?
Kegiatan apa yang selama ini paling banyak diikuti warga Lingkungan dan
Stasi? Mengapa? Kegiatan apa yang selama ini paling sedikit diikuti warga
Lingkungan dan Stasi? Mengapa? Bagaimana keterlibatan warga Lingkungan dan
Stasi di tengah masyarakat? Apa saja usaha yang telah dilakukan untuk
memperkuat Lingkungan dan Stasi sebagai akar paroki?
DOA UMAT (dipersilakan menyampaikan doa-doa spontan)
Doa Ardas Tahun 2026
Mendewasakan Hidup Berparoki
Melalui Perwujudan
Panca Tugas Gereja
(didoakan bersama)
Allah Bapa yang Mahakasih,
Engkaulah sumber dan tujuan kerinduan setiap manusia untuk menjadi kudus.
Melalui peribadatan yang benar, sakral, dan agung, khususnya dalam Ekaristi,
kami menyembah-Mu dan ambil bagian dalam karya keselamatan-Mu bagi dunia
yang lebih baik.
Tuhan Yesus,
Seperti para rasul telah Kauutus, demikian pula Engkau mengutus kami.
Utuslah kami menjadi pewarta Injil, pelaku keadilan, pembela kebenaran,
saksi kasih, pembangun persekutuan, pelopor persaudaraan sejati, serta
pejuang kelestarian alam.
Ya Roh Kudus,
Jiwailah kami dengan semangat mulia seperti yang Kaucurahkan kepada para
misionaris pendahulu kami melalui karya sosial, kesehatan, dan khususnya
pendidikan. Kobarkanlah kembali semangat solidaritas, subsidiaritas, dan
tanggung jawab kami untuk menyelamatkan, memulihkan, dan mengembangkan
Pendidikan Katolik di Keuskupan Surabaya, demi tegaknya kembali identitas
dan misi sebagaimana Tuhan kehendaki.
Bersama Bunda Maria, pengantara segala rahmat, kami tidak takut untuk
berharap. Kami percaya akan penyelenggaraan ilahi-Mu. Kami persembahkan
segala upaya dan pengorbanan demi kemuliaan-Mu, kini dan sepanjang masa.
Amin.
DOA BAPA KAMI
PENUTUP
Doa Penutup
Bapa yang Mahakasih, pada pertemuan ketiga di masa Prapaskah ini kami
telah mendalami kembali arti Lingkungan dan Stasi sebagai akar paroki.
Sebagai akar paroki, Lingkungan dan Stasi kami merupakan persekutuan yang
berpusat pada Kristus. Utuslah Roh KudusMu, agar memurnikan penghayatan iman
kami sehingga hidup kami sehari-hari semakin berpusat pada Kristus. Jangan
biarkan kami memusatkan hidup pada diri kami sendiri. Jauhkanlah kami di
sikap-sikap yang menghambat relasi di antara kami sebagai persekutuan
umatMu. Berilah kami kekuatan Roh KudusMu sehingga Lingkungan dan Stasi kami
semakin kuat menjadi akar paroki kami. Demi kemuliaan NamaMu, ya Tritunggal
Mahakudus, sepanjang masa, amin.
Berkat Penutup
Marilah kita hening sejenak, mohon berkat Tuhan bagi kita yang hadir di
sini, bagi keluarga dan juga bagi umat di lingkungan/stasi. Semoga kita
semua, seluruh anggota keluarga dan saudara kita di lingkungan/stasi . . .
senantiasa dibimbing dan dilindungi oleh berkat Allah Yang Mahakuasa: Dalam
Nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, Amin.
Lagu Penutup (jika diperlukan, dapat dipilih sendiri)
BAHAN PENDALAMAN IMAN AKSI PUASA PEMBANGUNAN (APP)
UMAT LINGKUNGAN/STASI
KEUSKUPAN SURABAYA TAHUN 2026